Sosok
Nananias si Bu Guru yang Pemalu

Nias, Pedapa dan haiku. Tiga hal ini lah yang lekat pada diri Ristiana Manao, bloger Bali yang asli Nias. Nananias, begitu ia dikenal, produktif membuat postingan pendek dengan gaya yang khas. Terkadang satire dan berani, yang mungkin bikin pejabat tidur tak nyenyak di malam hari.
Nana, yang mulai ngeblog pada Maret 2004, memang layak disebut sebagai salah satu bloger veteran. Mengaku mulai ngeblog karena iri hati dan ingin eksibisi kasih sayang, jadilah blog pertamanya yang berisi kisah sehari-hari yang berjumlah lebih dari 1000 entri. Namun sayang, blog pertamanya yang beralamat di blogspot tersebut sudah tak ada.
Setelah lebih dari 4 tahun berbagi cerita di internet, gaya tulisannya pun berubah. Bila dulu dia suka menulis berpanjang-panjang, kini tulisannya pendek-pendek. “Nana itu tulisannya pendek tapi nendang“, begitu kata salah seorang pengagumnya. Dalam blognya, Nana mengungkap beragam kegelisahan yang mengembara di benaknya. Bermacam hal ditulis secara spontan, termasuk kritiknya seputar agama dan protes kepada pemerintah yang menjadi tema favoritnya.
Tidak kah dia takut berkonflik dengan orang karena isi tulisannya? Nana pun menjawab santai, “Wah, itu masalah mereka. Hahahahaha!”. Nana menganggap perbedaan itu bagus karena menurutnya itu berarti orang-orang masih menggunakan akalnya.
Menurut Sir Mbilung, Nana adalah sosok yang ngemong. Anak kecil nyaman berada di dekatnya. Tentu, tak heran jika Nana layak menjadi guru. Di blog Pedapa, dia menyebut dirinya sendiri sebagai Bugurunana. Kini, banyak orang yang terbantu kesulitannya dalam memahami tata bahasa Inggris. Blog Pedapa ini memang dikhususkan untuk berbagi ilmu soal Bahasa Inggris, bidang yang menjadi bidang keilmuannya.
Lain Pedapa, lain pula haiku. Perkenalannya dengan haiku pada akhir 2006 ternyata membuatnya jatuh cinta. Puisi Jepang yang tampak sederhana namun punya banyak aturan dirasanya sungguh menantang. Dia kemudian membuat blog Rambling untuk mengenalkan dan mempelajari haiku supaya nggak salah kaprah.
Berani ketika berbagi cerita, tak disangka gadis Nias ini mengaku pemalu. Mungkin itu sebabnya dia tidak aktif bergabung dengan komunitas bloger atau datang ke kopdar-kopdar. Baginya, mengobrol dengan 2-3 orang teman saja dirasa lebih nyaman dan menyenangkan, sehingga bisa lebih puas cerewet.
Namun jika dia diminta untuk menjadi MC suatu acara, kesan pemalunya bisa lepas begitu saja. Itu karena dia memaksa dirinya untuk untuk mengalahkan ketidakmampuannya berdiri di depan banyak orang. Hasilnya? “Ternyata ditepokin itu asyik jendral!”, ungkapnya sembari tertawa.
Ratu haiku yang gemar melahap buku ini lalu berbagi keinginannya bertemu dengan penulis favoritnya, Patricia Cornwell, penulis serial dr. Scarpetta. Nana memang penyuka novel thriller, terutama soal homicide. “Pingin lihat referensinya dia aja“, katanya. “Untuk menulis, I am pretty sure one have to read a lot“, sambungnya kemudian. Banyak-banyak membaca buku diperlukan supaya tulisan menjadi bernas, begitulah kira-kira.
Ingin kah ia suatu saat menulis novel? Nggak juga, tampaknya. Nana mengaku ingin bisa menulis sesuatu yang makin pendek namun nempelak. Untuk merasakan kelegaaan ketika menuliskan beragam keliaran di otak kecilnya, begitulah Nana menggambarkan dirinya complicatedly simple ini. Tulisan-tulisan pendeknya, sederhana namun tetap penuh makna. Pas.
(nonadita)

