
Namanya Benwal. Terdengar aneh di telinga saya, sehingga saya mengira itu nama seorang keturunan India. Padahal Benwal nyatanya adalah singkatan dari nama Bene Waluyo, seorang pria Jawa yang suka membaca.
Bisa gemas atau cemas, mungkin itulah yang dia rasakan kala melihat bahasa Indonesia yang digunakan seenaknya. Dikawinkan secara tidak pas dengan bahasa asing atau bertabur salah kaprah. Tak salah memang bila blognya yang berjudul Bahasa Please!, dikhususkan untuk berbagi pengetahuannya soal pemakaian bahasa. Tulisan-tulisannya berkisah mengenai iklan-iklan yang keminggris, fenomena berbicara bahasa campur aduk, hingga salah kaprah berbahasa yang meluas di masyarakat.
Kuliah dan pengalaman bergelut di bidang periklanan memang memberinya banyak pengetahuan soal berbahasa Indonesia yang baik dan tepat. Tak hanya menunjukkan kesalahan, dia contohkan pula penggunaan bahasa yang pas. Maka layaklah bila dia disebut sebagai Polisi Bahasa, meskipun sebenarnya dia tak suka dianggap sebagai pengawas bahasa karena memang blognya tidak bertujuan untuk mengawasi bahasa.
Awalnya, Benwal merupakan kontributor majalah AdDiction, majalah yang membahas periklanan terbitan PPPI Jakarta. Suatu ketika, majalah tersebut mati suri, namun hasrat menulisnya tak lantas mati, maka terbitlah blog Bahasa Please! itu.
Pada dasarnya, dia adalah orang yang senang berkarya. Sejak SD dia sudah suka membuat komik, demikian dia mulai bercerita mengenai hasil karyanya di masa kecil. Komik-komik setebal 2-5 eksemplar yang dia gambar dan dia jilid sendiri itu lantas dijualnya dengan harga Rp 50,00, nilai yang cukup besar kala itu.
Selain komik, Benwal kecil juga gemar membuat hasta karya. Mengumpulkan kertas bekas yang masih bagus, kemudian dipotong seukuran A5 atau separuhnya, di-steples dan diberi solasi di atasnya, jadilah sebuah notes yang ia jual juga seharga Rp 25,00-50,00. Konsumennya, siapa lagi kalo bukan teman-temannya sendiri.
Kesukaannya mencoret-coret kemudian mengantarkannya menjadi Pemred majalah dinding dan Wapemred majalah sekolahnya ketika SMP. Sejak itu, Benwal kemudian menemukan kesenangan lain dalam aktivitas menulis.
Blog kemudian menjadi salah satu wahananya untuk berbagi. Media yang mudah dan murah, begitulah katanya. Pilihan yang tepat, karena melalui blog dia bisa menjangkau sasaran pembaca yang lebih luas, tidak hanya pelaku di industri periklanan. Namun begitu, masih ada cita yang belum dicapainya, yaitu punya majalah sendiri, suatu kali nanti.
Apa katanya soal Bahasa Indonesia? Menurutnya, Bahasa Indonesia adalah bahasa yang fleksibel dan tidak kaku. Lihat saja, betapa banyak kosakata yang merupakan serapan dari bahasa asing maupun bahasa slang. Di sisi lain, Benwal menyayangkan Bahasa Indonesia banyak dirusak oleh gaya hidup. Contohnya adalah adaptasi yang dipaksakan dalam bahasa Inggris. Katanya, “kebanggaan memiliki Bahasa Indonesia kurang diapresiasi dengan cara menggali kata asli Indonesia”. Ah, mungkin karena berbahasa asing dianggap lebih keren?
Lalu bagaimana dengan bahasa yang biasa digunakan dalam penulisan blog? Pada umumnya, blog adalah bahasa lisan yang ditulis. Katanya itu sah-sah saja, nggak salah apalagi  jadi dosa. “Dalam dunia periklanan, penggunaan bahasa non-baku juga sering dilakukan, namun melihat siapa sasaran dari iklan tersebut”, begitu kata pria yang mengaku pemalu ini. Ngeblog itu bebas, namun dalam penggunaan bahasa juga harus klop dengan segmen pembacanya.
Masih lebih bangga memakai bahasa blasteran? Duh, Bahasa please!! (nonadita)
17 December 2008