Sosok
Vavai si Linux Evangelist

Namanya Masim Sugianto, tapi dia lebih dikenal dengan nama Vavai, nickname yang digunakannya sejak SMP. Vavai adalah blogger yang lebih dikenal sebagai salah satu pegiat komunitas open source, khususnya openSUSE. Maka tak heran sebagian besar blognya pun dijadikannya sarana berbagi tutorial dan panduan soal open source.
Vavai tertarik membuat blog pada tahun 2004, sejak membaca tulisan Enda Nasution berjudul “Apa Itu Blog?”. Dia kemudian membuat blog dengan tujuan yang sederhana, sebagai media catatan untuk melawan lupa. Blognya kemudian berkembang menjadi media untuk menuliskan cara pandang dan cerita kesehariannya. Kini Vavai memiliki setidaknya sepuluh blog yang semua dirawatnya dengan sayang.
Vavai identik dengan Linux. Keduanya akrab layaknya sobat dekat. Perkenalannya dengan Linux terjadi di tahun 1999. Awalnya sederhana saja, dia jatuh hati pada gambar Gecko pada desktop komputer temannya. Belakangan dia jatuh cinta lebih dalam pada sistem operasi gratisan itu karena berbagai keunggulannya, yaitu: stabil, bebas virus dan gratis. Menurutnya, Linux ini menantang. “Membuat saya terus tertantang untuk belajar serta bebas dimodifikasi dan banyak pilihan”, jelasnya.
Kemudahan inilah yang menurutnya sayang untuk dilewatkan oleh pengguna komputer di Indonesia. Sebagian besar pengguna komputer di Indonesia masih menggunakan software berbayar yang sayangnya merupakan bajakan. Padahal software gratisan yang tersedia kini tidak kalah powerful dibanding software-software berbayar tersebut.
Pada masa-masa awal menggunakan Linux, ayah satu anak ini memang menemui kesulitan soal ketersediaan panduan dan tutorial untuk pemakai Linux. Kemudian, setiap dia bisa melakukan suatu hal dengan Linux, dia menulisnya di blog agar tidak lupa dan membantu orang lain yang menemui kesulitan yang sama.
Lama-kelamaan, Vavai berinisiatif untuk melakukan langkah yang lebih besar. Dia menggagas organisasi non profit yang bisa memberikan support bagi para pengguna Linux yang kesulitan. Inilah awal mula pendirian Komunitas openSUSE Indonesia pada pertengahan tahun 2007. Gayung bersambut, pendirian komunitas yang didukung oleh developer openSUSE di Jerman ini rupanya mendapat sambutan tak kalah hangat dari para pengguna openSUSE lain di Indonesia.
Vavai kemudian dipercaya menjadi ketua komunitas openSUSE Indonesia pertama untuk masa 2007-2008. “Tahun pertama mesti kerja keras dan yang punya inisiatif harus kerja keras duluan”, demikian alasannya. Bersama komunitas tersebut, Vavai berkampanye untuk penggunaan aplikasi open source. Situs, forum, mailing list, CD gratis dan seminar-seminar menjadi wahananya.
Apa sebetulnya mimpi yang menggerakkannya sedemikian rupa? Ternyata dia punya cita-cita menjadikan Linux sebagai pilihan yang feasible dan applicable di Indonesia. Paling tidak bisa mengurangi produk bajakan yang digunakan di Indonesia. Tentu kita juga tak mau terus menerus menjadi bangsa pembajak, bukan?
Berbicara mengenai blog yang digunakan sebagai media kampanye, siapapun tahu itu. Namun bagaimana cara mengoptimalkan blog untuk kampanye sebuah ide? “Terus menerus menulis”, jawabnya pasti. Vavai berkata demikian bukannya tanpa dasar. Kecintaannya pada openSUSE terbaca dari tulisan-tulisannya, dia selalu enjoy menikmati kegiatan tersebut. Komunitas pun terbangun setelahnya, alamiah dan tanpa paksaan. “Jika kita terus menerus dengan sepenuh hati dan sepenuh cinta berbicara mengenai sesuatu yang kita sukai, niscaya akan ada banyak follower“, katanya.
Ah, sudahkah kita menulis dengan sepenuh hati seperti dirinya? (nonadita)

Selamat ulang tahun untuk Mas Vavai dan istri

