
Pemuda berkaos oblong dengan muka diburamkan coretan spidol merah. Terkesan lugu dan lucu, terkadang sok tau. Itulah karakter yang dia buat sebagai perwujudan dirinya dalam komik. Mari berbincang dengan Tito Sigilipoe, dokter hewan yang (kini) memilih dunia gambar sebagai lahannya mencari nafkah.
Mengapa dia memilih untuk menjadi tukang gambar ketimbang menjadi dokter di klinik hewan? Dia merasa kerja di klinik itu aneh. “Masa berharap piaraan orang sakit biar dapat duit?”, tanyanya. Baginya sepi itu terasa menyiksa. Maka masa-masa sepi yang dirasakan selama menunggu pasien di klinik diisinya dengan menggambar. “Kalau nggak ngapa-ngapain tangannya gatel!”, ceritanya. Dia pun hanya bertahan bekerja di klinik selama 5 bulan semenjak lulus. Berani mengambil keputusan untuk melangkah di bidang yang disukainya.
Kesukaannya pada gambar memang sudah muncul sedari kecil sejak belum bisa membaca. Coret-coretan dibuatnya sebagai sarana pelampiasan perasaan. Soal komik-komik pertama yang dibuatnya semasa kecil, “dari dulu pernah nggambar bapak sendiri dalam komik kalau lagi sebel sama beliau. Nggak ada wadah lain yang cocok untuk balas dendam”. ![]()
Kepandaiannya menggambar ini pulalah yang dijadikannya “senjata” untuk mendekati wanita. Siapa wanita yang tak simpati bila diberikan lukisan diri yang dibuat dengan sepenuh hati? Dia tahu itu. Tapi dia emoh memberitahu, berapa wanita yang telah dia dekati bermodalkan lukisan wajah. “Ehm…demi keamanan nasional, Nona, it’s classified“, begitu katanya.
Entah berapa usianya ketika dia mulai menggambar wanita gebetannya. Kala itu dia menggambarnya berulangkali seukuran A3. Dia merasa malu, maka dia menyembunyikannya di belakang lemari dan tetap ketahuan keluarga. ![]()
Di kemudian hari, dia membawa hobi menggambar ini ke ranah blog. Awalnya, dia ngeblog karena merasa terinspirasi oleh blogger-blogger lainnya. Siapa? “Sekarang yang menginspirasi saya sudah dianggap begawan, yang lainnya bikin buku Ngeblog dengan Hati”, jawabnya.
Mengenai blog, pemilik blog Terapi Komik ini berpendapat bahwa blog itu rekaman supaya buah pikiran tidak menguap dan hilang. Bisa ditilik lagi ketika kering ide. Sesuai kesukaannya, dia memilih gambar sebagai media penyampaian idenya. Sederhana saja, rupanya dokter hewan ini merasa nggak pintar menulis. Lagipula, seringkali gambar menyampaikan lebih banyak pesan ketimbang tulisan. Judul Terapi Komik dipilihnya, karena buatnya komik adalah terapi untuknya agar bisa menertawakan masalah.
Pengagum komik-komik Eropa ini pun mengisi blognya dengan komik hasil karyanya. Awalnya, dia mengaku ingin meniru blog komik yang disukainya: Apes & Babes. Dia mengagumi komik strip “Liberty Meadows”-nya, tapi tak bisa menirunya.
Sesekali dia menyisipkan karikatur orang-orang terdekatnya pada event-event tertentu, misalnya ulangtahun atau pernikahan. Kado simpel namun berkesan.
Walaupun sudah kepincut pada dunia menggambar, Tito mengaku masih menyimpan rencana untuk kembali ke dunia binatang. Ada kerinduan yang dirasakannya kalau melihat kucing dan anjing. “Tetap ada rencana untuk insyaf”, katanya. Ah, ya bagus Mas! Lah kuliah jadi dokter hewan itu lama tho?Â
 (nonadita)
