Twitwancara
@blontankpoer: Spontanitas Saya Lebih Kuat
Sebelum riuhnya blog, Facebook, dan Twitter, nama Blontank Poer (kini 43 tahun) sudah beredar di kalangan pekerja media dan organisasi nonpemerintah.
Di Twitter, kicauan @blontankpoer kadang membuat sebagian orang tersengat karena tersindir, bahkan tertampar, tetapi dalam lain kicauan dia bisa mengundang tawa.
Senin malam 18 April kemarin dagdigdug mewawancarai sang narablog yang sebelum memakai domain sendiri blontankpoer.com indekos di Blogsome (Blontypix) selama Januari 2006 sampai September 2009.
Ketika ditanya mengapa nama gagah Purwaka (baca: purwoko) diganti menjadi Blontank, dia mempersilakan dagdigdug menyimak “Saya itu Aku” – ditambahi keluhan, “Iki pertanyaan pertamane marakké ilang mood.” (Ini pertanyaan pertama [soal nama], memuat mood hilang).
Namun di sana ada teks dalam bahasa Jawa yang tak dipahami semua orang. Isinya, kalau diringkas, “Blonthang berarti belang-belang seperti zebra. Supaya tidak udik, jadilah blontank.”
Lalu, “Adapun Poer itu dari Pur — selengkapnya hanya petugas bank yang tahu.”
Berikut ini kutipan wawancara setelah melalui penyuntingan. Dokumen asli dapat Anda lihat dari Bettween dan salingsilang.
Kenapa merasa sebagai orang Solo, bukan Klaten?
Maklum, psikologi orang kampung…merasa bangga kalau ada Solo-nya
Bisa sebutkan Solo dalam lima kata saja?
Solo adalah kota yang asik.
Apa saja yang mengasyikkan dari Solo?
Ciri kulturnya Unik. Menggelitik saya untuk ikut arus keseharian dalam konteks relasi sosial-budaya. Itu sok-sokan-nya. Kebetulan juga pernah terlibat ikut-ikutan soal resolusi konflik pasca kerusuhan Mei 1998, walau dari sisi aksi budaya.
Waktu itu dari sisi skala, Solo lbh parah drpd Jakarta. Jejak luka itu masih?
Jejak luka nyaris hilang. masih perlu dituntaskan, dan semua pihak mesti terlibat pengawalan soal itu. Solo itu unik.
Keren! Maaf, ada cita-cita jadi walikota Solo?
Repot amat pakai bercita-cita jadi walikota Solo. Jadi rakyat saja belum bisa bertindak selayaknya warga kota kok… :p
Terima kasih dan percaya Baiklah,… Anda percaya kepada analisis Klout? » klout.com/blontankpoer…
Saya baru tahu itu dari @didinu. Saya tak peduli begituan. Analisis Klout? Sebagai blogger saja saya tak peduli ada comment, apalagi begituan. Lagi pula, saya ngetwit untuk suka-suka.
[@didinu nyeletuk, "Lho aku ndak tahu, jé. @blontankpoer menyahut, "Maap, Kak. Anggap saja ngigau."]
[@donnybu juga nimbrung, "Kalau saya peduli Klout score." @blontankpoer menjawab, "Bagimu agamamu, bagiku agamaku. Aku masih muslim toleran."]
[Sebelumnya @suwandiahmad berkomentar, "#wwcr @blontankpoer oleh @dagdigdug penuh kebohongan dan ketidakjelasan." @blontankpoer merespon, "Kalau tak suka, silakan block akun saya, Bung!"]
Jadi, dalam gaul maul Twitter apa yg Anda pedulikan, Mas? Kalo sebagai blogger tak peduli komen, bagaimana interaksi dengan pembaca setia?
Saya tak berhak berharap atau minta karena malas blogwalking & comment. Saya harus fair.
Malas blogwalking dan komen? Sejak awal ngeblog begitu?
Semua orang sudah tahu sifat buruk saya…
Anda percaya bahwa media sosial bisa untuk melakukan gerakan sosial?
Antara percaya dan tidak.
Percaya jika apa, tidak bila apa?
PERCAYA jika kecongkakan banyak pihak terus melukai rasa keadilan publik. TAK PERCAYA jika konsultan komunikasinya cerdas.
Menarik. Bisa Anda jelaskan soal “kecongkakan” + “kecerdasan konsultan komunikasi”?
Terutama kecongkakan pemerintah & aparat hukum sehingga memicu muncul perasaan dizalimi.
[@BayuHernawan berkomentar, "Kok wawancara kang @blontankpoer kurang detail, kurang indept. @dagdigdug menanggapi, "Terima kasih atas kritik Anda "]
Ada apa dengan konsultan komunikasi, Mas?
Lihat saja perkara Century yang tak kelar. Itu kerja komunikasi kan?
[Meski sudah dijelaskan sejak awal melalui DM dan telepon, @blontankpoer masih ragu dan bertanya, "Boleh tahu gak, siapa saja yang sedang mewawancarai saya?" @dagdigdug menjawab, "Ya? Saya. Antyo Rentjoko (@pamantyo), pengelola dagdigdug. " @blontankpoer bertanya lagi,"Kalau Paman, kok pakai kata "Mas"?"]
Misalkan “massa” juga gunakan konsultan komunikasi untuk konter bagaimana?
Berapa banyak konsultan yg mau probono?
Pertanyaan bagus dan saya tidak tahu jawabannya.:)
[@ndorokakung masuk, "Wawancara antara @dagdigdug dan @blontankpoer membingungkan, susah diikuti. cih! Unfollow ah, hihihi." @blontankpoer menukas, "Dinanti penuh harap. "]
Baik, kita kembali santai. Apa arti jumlah followers buat Anda?
Tersanjung ada masih mau simak TL saya yang kadang naif & kotor. Supaya sepadan, saya tak akan “memanfaatkan” teman-teman penyimak. (Tapi) saya risih dengan istilah “follower“. Rasanya ada subordinasi, ada yang menghegemoni. Kurang setara…. mereka PENYIMAK.
Penyimak. Menarik. Anda risih kalau berstatus punya pengikut tapi tak ganti ikuti mereka? Kenapa dlm blog bisa?
BEDA. Tapi maaf, saya tak punya kecakapan menjelaskannya. Saya cuma blogger KW5.
Baiklah kl merasa blogger KW5. Tapi blog Anda dikenal dan disimak banyak orang kan?
Saya tak tahu, bagaimana cara utk bisa mengetahui statistiknya. Harap maklum.
Setidaknya, dari blogs.indonesiamatters.com kan kelihatan?
Indonesiamatters? Saya kok tak percaya update & akurasinya. Wong pernah lama tak update, ranking-nya malah naik? Pripun?
[@blontankpoer bilang, "Lha aku wae ya bingung kok, Mbak…" ketika menanggapi @venturaE yang sebelumnya berkomentar, "Aku kok bingung ya baca TL kyai .. atau #wwcr-nya memang dibuat 'ruwet'?"]
Baik, mari kita kurangi keruwetan. Kenapa meramu Blontea?
#blontea? Hahaha… itu sih kebiasaan lama, terpengaruh kebanyakan orang Solo yang tak pernah mengonsumsi teh dengan satu merek.
Jadi Blontea itu, kalau kami boleh tahu, ramuan berapa merek?
Gak boleh tahu berapa jumlah merek yg diramu. Telanjur menikmati efek rejekinya, lupa daratan. Semoga itu kekhilafan.
Anda punya ramuan privat, untuk diri sendiri, dalam #blontea?
Mboten. Saya cukup puas menikmati ramuan saya yang pertama…
Baik, thanx untuk teh. Kenapa menyebut diri “blogger sepenuhnya” dalam bio di Twitter?
Itu cuma pura-pura, karena khilaf terjebak arus mainstream pencitraan. Saya tak berani menyebut diri penganggur krn itu KUFUR.
[@blontankper pun bertanya kenapa dirinya di-pertamax-kan dalam Twitterviu. @dagdigdug menjawab, "Salah satu blogger yang menarik + mengundang rasa ingin tahu adalah Anda " Dan @blontankper menanggapi, "Pastilah karena situasi yang selalu menempatkan saya dalam peran-peran antagonis".]
Tentang blogger sepenuhnya tadi juga karena peran antagonis?
Anggap saja begitu. Nyatanya, saya sering dihadapkan dalam posisi sulit yang akhirnya kejebur dalam antagonisme itu.
Posisi sulit spt apa? Konflik?
Tak bisa disederhanakan dengan istilah konflik. Itu tak baik. Bahasa OrBa-nya: respon terhadap dinamika dalam masyarakat.
Oke, saya ikuti. Kenapa dalam merespon dinamika Anda (merasa) diposisikan sebagai antagonis? Karena keinginan Anda?
Saya terpengaruh tanggung jawab pers. Blogger sebaiknya ‘menemani’ mereka yang voiceless, bukan sebaliknya.
Bisa diperjelas soal blogger menemani mereka yang voiceless?
Apik iki… pertanyaan jebakan. No comment wae, memanfaatkan privilese “narasumber” LOL.
Tak ada jebakan, hanya merespon jawaban Anda. Anda sendiri merasa sebagai antagonis?
Ketika individu/komunitas/publik merasa media mainstream sudah elitis, saluran apa lagi yg pas buat mereka? Dalam arti tak banyak ikut arus utama, secara istilah, bukankah cuma kata “antagonis” yang paling pas??? :p
Boleh tahu arus utama yang mana? Ngeblog, ngetwit, atau yang mana? Apakah blog, twitter & FB dalam konteks Indonesia sudah tdk elitis?
Arus utama yang saya maksud adalah kecenderungan orientasi (pada) profesi dalam bidang (baru) komunikasi. (tambahan) Ya blog, twit, dll. Maksudnya saya INDUSTRI komunikasi. Blog/FB/Twitter memang masih elitis di Indonesia. Maka, saya berharap para “seleb” membumikannya, kurangi digital gap.
Dalam bidang baru tersebut termasuk media sosial dan aktivitas “berbayar”?
YA, di antaranya soal medsos & aktivitas “berbayar” itu. Tapi “bayaran” tak cuma dalam arti rupiah/dollar/barang. Saya tak menolak rejeki atau menampik orang berusaha. Ada batasan etis/tak etis, dan itu bisa abu-abu. Parameter tak jelas.
Dari yang abu-abu itu, ada contoh kasus yang paling abu-abu/kelam?
Fasilitas, kemudahan, privilese, kadang lebih bernilai dibanding uang/barang. Kurang bijak kalau itu jadi orientasi. Yang abu-abu misalnya bicarakan sosok/institusi yang sedang jadi sorotan publik, namun tak tunjukkan netralitas, apalagi kritis. Ciri yang abu-abu itu, menurut saya, ya tindakan/sikap/perbuatan yang memicu prasangka, kecurigaan bagi orang lain.
Terima kasih. (Kembali ke elitisme dan digital gap) Dengan cara apa misalnya?
Banyak cara mengurangi kesenjangan digital. Bisa dengan cara terjun langsung, bisa pula lakukan advokasi kebijakan.
Terjun langsung, bukan cuma taktiktuk dari keyboard dan keypad? Begitu?
Saya sering kecewa lihat teman2 yang punya “power” tapi enggan bersedekah. Retwit saja sering saya anggap pilih-pilih…
Maksud Anda? Pilah-pilih RT bagaimana?
Teman-teman yang saya anggap punya “power” seperti takut “ternoda” citra/kelasnya. Padahal, bisa jadi sebaliknya. Maaf kalau keliru. Contoh soal pilih-pilih, dulu @jalinmerapi @savementawai banjir RT saat “hot“. Kini, seberapa banyak yang mau retwit??
Hahaha. Sekarang ke yang ringan. Anda lebih merasa sebagai penyabar/pemberang? Pengimbau/penyindir/pengumpat?
Tak fair menyebut diri. Tapi apapun sebutan untuk saya, saya terima. Kalau tampak marah, Anda terkecoh. Saya bkn #arifjenggot.
Tapi Anda juga lucu suka guyon kan? Apalagi dalam bahasa Jawa?:D Kenapa?
Kalau soal marah/melucu dalam bahasa Jawa, rasanya hanya bahasa ibu yang bisa mewakili perasaan. Untuk katarsis, sekaligus relaksasi.
Anda masih bisa menulis dalam bahasa Jawa secara lengkap dalam blog. Pakai mikir lama atau spontan?
Kesalahan terbesar banyak orang adalah menganggap saya BISA MIKIR! Mirip hewan, spontanitas saya lebih kuat. Instinktif. Soal menulis dalam bahasa Jawa, itu cuma coba-coba ketika berbahasa Indonesia kerap gagap, bahasa Inggris kacau, bahasa tubuh gagu.
Dalam berhitung, Anda juga membatin pakai bahasa Jawa?
Coba kalimatnya dalam bahasa Jawa, mungkin saya paham.
Manawi nembé ngétang punapa panjenengan inggih mawi basa Jawi? Sakyuta, rong miliar, sèwu patang atus wolung puluh.
YA. Sebab hanya itu bahasa yang agak saya kuasai. Tapi kalau di Jakarta, saya berhitung pakai bahasa Indonesia. #nasionalis
Batas geografis menentukan batin Jawa dalam menyebut angka? Aha! BTW Anda mau gak ngetwit berbayar pakai bahasa Jawa?
Twit berbayar? Pakai bahasa Jawa atau Indonesia pun MAU asal ada “kesepakatan” hashtag tertentu. Saya tak mau nipu/kotori TL penyimak. Saya lebih senang ikut kompetisi blog demi hadiah tertentu daripada sesatkan penyimak via kicauan saya di TL. Dan saya independen.
Wow! Terima kasih u/ tak menyesatkan penyimak. Bolehkah #wwcr kita akhiri selagi penyimak blm jenuh?
Anda terlambat menyadari! Sudah banyak yang jenuh dari tadi… LOL
© Foto dari Twitter-nya Blontank Poer
-
Twitwancara sebelumnya

