Belajar Kehidupan di Injury Time
"Sepakbola menawarkan begitu banyak peristiwa yang bisa kita maknai. Asal kita mau menikmati permainan itu dengan rasa -- bukan hanya dengan mata dan akal. Ada yang geleng-geleng kepala melihat 22 orang pria dewasa berlarian hanya untuk berebut satu bola. Padahal, di dalam sepetak lapangan rumput itu bisa tergambar miniatur kehidupan kita, manusia, yang juga mengejar bola kehidupannya masing-masing."Begitulah yang tertulis di salah satu halaman blog Injury Time (http://injurytime.dagdigdug.com). Sebuah perspektif lain, sudut pandang yang berbeda dari seorang blogger tentang sebuah laga di lapangan hijau. Kita jadi tahu bahwa di antara 1 bola, 22 pemain, 1 wasit, dan 2 penjaga garis, ada banyak cerita yang bisa dituturkan. Kadang menggelikan, kali lain mengharukan. Dan blog ini memberi kita suguhan yang berbeda, dari sebuah remeh-temeh.
Tak banyak orang yang dengan piawai meracik kata, memberi gambaran pada orang lain, tentang sepakbola seperti penulis blog Injury Time. Yang belum mengenal, jadi paham. Yang sudah tahu mendapatkan sesuatu yang baru.
Bacalah, misalnya, ia menganalogikan kisah sinetron yang dibintangi Dewi Sandra dengan keajaiban yang melindungi penjaga gawang Bayern Muenchen Oliver Kahn.
"Jalinan cerita yang membuat dada saya terasa sesak dan tanpa sadar mengalirkan air mata deras dari balik kelopaknya. Kejadian langka yang saya sendiri heran dibuatnya. Sama persis dengan Oliver Kahn yang mengaku tak akan pernah melupakan sebuah pertandingan yang baru saja dijalaninya. Sebuah laga yang melahirkan begitu banyak sensasi - meski hanya menghadapi sebuah klub kecil di sebuah kejuaraan yang jauh dari predikat prestisius."
Ia bisa dengan mulus memindahkan kisah sebuah sinetron sebagai pengantar, lalu berpindah ke cerita ihwal perjuangan Bayern Muenchen menahan gempuran Getafe di perempat final Piala UEFA yang berbuah manis.
Ah, sepakbola memang menawarkan begitu banyak peristiwa yang bisa kita maknai. Asal kita mau menikmati permainan itu dengan rasa -- bukan hanya dengan mata dan akal ...

